Daftar Blog Saya

Rabu, 22 Oktober 2014

KLASIFIKASI IKLIM

Agroekoteknologi  - Universitas Trilogi 

Tugas dari Ibu Inanpi Hidayati



KLASIFIKASI IKLIM
Klasifikasi iklim merupakan cara mengidentifikasi dan membedakan iklim-iklim yang terdapat di bumi. Akibat perbedaan latitudo (posisi relatif terhadap khatulistiwa, garis lintang), letak geografi, dan kondisi topografi, suatu tempat memiliki kekhasan iklim.
A. Iklim Matahari
Sistem penggolongan iklim Matahari didasarkan atas gerakan semu tahunan Matahari antara lintang 23½°LU–23½°LS. Daerah-daerah yang terletak di antara garis lintang tersebut menerima intensitas penyinaran Matahari yang maksimal, sehingga rata-rata suhu udara harian dan tahunannya tinggi. Adapun wilayah-wilayah lainnya mendapat penyinaran Matahari secara bervariasi. Oleh karena itu, dalam sistem klasifikasi iklim Matahari, posisi lintang suatu tempat sangat menentukan tipe iklimnya.
Iklim Matahari disebut juga iklim pasti karena letak garis lintang sudah pasti tidak berubah-ubah. Iklim Matahari merupakan iklim yang penentuannya berdasarkan banyaknya sinar Matahari yang diterima oleh Bumi. Daerah yang paling banyak mendapatkan sinar panas Matahari adalah daerah yang terletak antara 0°–23,5°LU dan 0°–23,5°LS. Dengan adanya gerak semu Matahari, daerah ini mendapat panas yang tinggi sepanjang tahun. Daerah yang letaknya semakin jauh dari katulistiwa mendapatkan panas Matahari yang semakin sedikit. Oleh karena itu, semakin tinggi garis lintang, daerah tersebut semakin dingin. Daerah iklim Matahari terbagi atas:
1.      Iklim Tropis (panas), antara 23,5°LU–23,5°LS
2.      Iklim Subtropis (daerah transisi), antara 23,5°LU–40°LU dan 23,5°LS–40°LS
3.      Iklim Sedang, antara 40°LU–66,5°LU dan 40°LS–66,5°LS
4.      Iklim Dingin (kutub), antara 66,5°LU–90°LU dan 66,5°LU–90°LU

B. Klasifikasi Iklim Koeppen
Seorang ahli klimatologi dari Universitas Graz Austria, Wladimir Koppen (1918) mencoba membuat sistem penggolongan iklim dunia berdasarkan unsur-unsur cuaca, meliputi intensitas, curah hujan, suhu, dan kelembapan. Klasifikasi iklim Koppen menggunakan sistem huruf. Huruf pertama dalam sistem klasifikasi iklim Koppen terdiri atas 5 huruf kapital yang menunjukkan karakter suhu atau curah hujan. Kelima jenis iklim tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Iklim A Iklim Tropis
Ditandai dengan rata-rata suhu bulan terdingin masih lebih dari 18°C. Adapun rata-rata kelembapan udara senantiasa tinggi.
2.      Iklim B Iklim Kering
Ditandai dengan rata-rata proses penguapan air selalu tinggi dibandingkan dengan curah hujan yang jatuh, sehingga tidak ada kelebihan air tanah dan tidak ada sungai yang mengalir secara permanen.
3.      Iklim C ( Iklim sedang hangat atau Mesothermal )
Ditandai dengan rata-rata suhu bulan terdingin adalah di atas -3°C, namun kurang dari 18°C. Minimal ada satu bulan yang melebihi ratarata suhu di atas 10°C. Iklim C ditandai dengan adanya empat musim (spring, summer, autumn, dan winter).
4.      Iklim D ( Iklim salju atau Mikrothermal )
Ditandai dengan rata-rata suhu bulan terdingin adalah kurang dari –3°C.
5.      Iklim E ( Iklim es atau Salju Abadi )
ditandai dengan rata-rata suhu bulan terpanas kurang dari 10°C. Di kawasan iklim E tidak terdapat musim panas yang jelas.

C. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
Khusus untuk keperluan dalam bidang pertanian dan perkebunan, Schmidt dan Ferguson membuat penggolongan iklim khusus daerah tropis. Dasar pengklasifikasian iklim ini adalah jumlah curah hujan yang jatuh setiap bulan sehingga diketahui rata-rata bulan basah, lembap, dan bulan kering. Bulan kering adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan kurang dari 60 mm, bulan lembap adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan antara 60 mm–100 mm. Bulan basah adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan lebih dari 100 mm. Seperti halnya klasifikasi iklim menurut Vladimir Koppen, sistem klasifikasi penggolongan iklim menurut Schmidt-Ferguson menggunakan sistem huruf yang didasarkan atas nilai Q, yaitu persentase perbandingan rata-rata jumlah bulan basah dan bulan kering. Untuk menentukan tipe iklim Schmidt-Ferguson digunakan rumus sebagai berikut.
Q = (Md/Mw) x 100%

Q         =         perbandingan bulan kering dan bulan basah (%)
Md      =         mean (rata-rata) bulan kering, yaitu perbandingan antara jumlah
bulan kering dibagi dengan jumlah tahun pengamatan
Mw      =         mean (rata-rata) bulan basah, yaitu perbandingan antara jumlah
bulan basah dibagi dengan jumlah tahun pengamatan Ketentuan dari sistem klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson adalah sebagai berikut.
No
Tipe
Skala
1
Iklim A (sangat basah)
Q antara 0%–14,33%.
2
Iklim B (basah)
Q antara 14,33%–33,3%.
3
Iklim C (agak basah)
Q antara 33,3%–60%.
4
Iklim D (sedang)
Q antara 60%–100%.
5
Iklim E (agak kering
Q antara 100%–167%.
6
Iklim F (kering)
Q antara 167%–300%.
7
Iklim G (sangat kering)
Q antara 300%–700%.
8
Iklim H (kering sangat ekstrim)
Q lebih dari 700%.



D. Klasifikasi Iklim Junghuhn
Junghuhn merupakan seorang ahli Botani dari Belanda, yang membuat penggolongan iklim khususnya di negara Indonesia terutama di Pulau Jawa berdasarkan pada garis ketinggian untuk keperluan pola pembudidayaan tanaman perkebunan, seperti tanaman teh, kopi, dan kina. Indikasi tipe iklim adalah jenis tumbuhan yang cocok hidup pada suatu kawasan. Junghuhn membagi lima wilayah iklim berdasarkan ketinggian tempat di atas permukaan laut sebagai berikut ini.
A. Zone Iklim Panas, antara ketinggian 0–700 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan di atas 22°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami padi, jagung, tebu, dan kelapa.
B. Zone Iklim Sedang, antara ketinggian 700–1.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara 15°C–22°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami komoditas perkebunan teh, karet, kopi, dan kina.
C. Zone Iklim Sejuk, antara ketinggian 1.500–2.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara 11°C–15°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami komoditas hortikultur seperti sayuran, bunga-bungaan, dan beberapa jenis buah-buahan.
D. Zone Iklim Dingin, antara ketinggian 2.500–4.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan kurang dari 11°C. Tumbuhan yang masih mampu bertahan adalah lumut dan beberapa jenis rumput.
E. Zone Iklim Salju Tropis, pada ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar