Tugas dari Ibu Inanpi Hidayati
KLASIFIKASI
IKLIM
Klasifikasi iklim
merupakan cara mengidentifikasi dan membedakan iklim-iklim yang terdapat di
bumi. Akibat perbedaan latitudo (posisi relatif
terhadap khatulistiwa, garis lintang), letak geografi,
dan kondisi topografi,
suatu tempat memiliki kekhasan iklim.
A. Iklim Matahari
Sistem penggolongan iklim Matahari
didasarkan atas gerakan semu tahunan Matahari antara lintang 23½°LU–23½°LS.
Daerah-daerah yang terletak di antara garis lintang tersebut menerima
intensitas penyinaran Matahari yang maksimal, sehingga rata-rata suhu udara
harian dan tahunannya tinggi. Adapun wilayah-wilayah lainnya mendapat
penyinaran Matahari secara bervariasi. Oleh karena itu, dalam sistem
klasifikasi iklim Matahari, posisi lintang suatu tempat sangat menentukan tipe
iklimnya.
Iklim Matahari disebut juga iklim
pasti karena letak garis lintang sudah pasti tidak berubah-ubah. Iklim Matahari
merupakan iklim yang penentuannya berdasarkan banyaknya sinar Matahari yang
diterima oleh Bumi. Daerah yang paling banyak mendapatkan sinar panas Matahari
adalah daerah yang terletak antara 0°–23,5°LU dan 0°–23,5°LS. Dengan adanya
gerak semu Matahari, daerah ini mendapat panas yang tinggi sepanjang tahun.
Daerah yang letaknya semakin jauh dari katulistiwa mendapatkan panas Matahari
yang semakin sedikit. Oleh karena itu, semakin tinggi garis lintang, daerah
tersebut semakin dingin. Daerah iklim Matahari terbagi atas:
1.
Iklim Tropis (panas), antara 23,5°LU–23,5°LS
2.
Iklim Subtropis (daerah transisi), antara 23,5°LU–40°LU dan
23,5°LS–40°LS
3.
Iklim Sedang, antara 40°LU–66,5°LU dan
40°LS–66,5°LS
4.
Iklim Dingin (kutub), antara 66,5°LU–90°LU dan
66,5°LU–90°LU
B. Klasifikasi
Iklim Koeppen
Seorang ahli
klimatologi dari Universitas Graz Austria, Wladimir Koppen (1918)
mencoba membuat sistem penggolongan iklim dunia berdasarkan unsur-unsur cuaca,
meliputi intensitas, curah hujan, suhu, dan kelembapan. Klasifikasi iklim
Koppen menggunakan sistem huruf. Huruf pertama dalam sistem klasifikasi iklim
Koppen terdiri atas 5 huruf kapital yang menunjukkan karakter suhu atau curah
hujan. Kelima jenis iklim tersebut adalah sebagai berikut.
1.
Iklim A Iklim Tropis
Ditandai dengan
rata-rata suhu bulan terdingin masih lebih dari 18°C. Adapun rata-rata
kelembapan udara senantiasa tinggi.
2.
Iklim B Iklim Kering
Ditandai dengan
rata-rata proses penguapan air selalu tinggi dibandingkan dengan curah hujan
yang jatuh, sehingga tidak ada kelebihan air tanah dan tidak ada sungai yang
mengalir secara permanen.
3. Iklim C ( Iklim sedang hangat atau Mesothermal )
Ditandai dengan
rata-rata suhu bulan terdingin adalah di atas -3°C, namun kurang dari 18°C.
Minimal ada satu bulan yang melebihi ratarata suhu di atas 10°C. Iklim C ditandai
dengan adanya empat musim (spring, summer, autumn,
dan winter).
4.
Iklim
D (
Iklim salju atau Mikrothermal )
Ditandai dengan
rata-rata suhu bulan terdingin adalah kurang dari –3°C.
5. Iklim E ( Iklim es atau Salju Abadi
)
ditandai
dengan rata-rata suhu bulan terpanas kurang dari 10°C. Di kawasan iklim E tidak
terdapat musim panas yang jelas.
C. Klasifikasi Iklim Schmidt-Ferguson
Khusus untuk keperluan dalam bidang
pertanian dan perkebunan, Schmidt dan Ferguson membuat
penggolongan iklim khusus daerah tropis. Dasar pengklasifikasian iklim ini
adalah jumlah curah hujan yang jatuh setiap bulan sehingga diketahui rata-rata
bulan basah, lembap, dan bulan kering. Bulan kering adalah bulan-bulan
yang memiliki tebal curah hujan kurang dari 60 mm, bulan lembap adalah
bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan antara 60 mm–100 mm. Bulan basah
adalah bulan-bulan yang memiliki tebal curah hujan lebih dari 100 mm.
Seperti halnya klasifikasi iklim menurut Vladimir Koppen, sistem klasifikasi
penggolongan iklim menurut Schmidt-Ferguson menggunakan sistem huruf
yang didasarkan atas nilai Q, yaitu persentase perbandingan rata-rata
jumlah bulan basah dan bulan kering. Untuk menentukan tipe iklim
Schmidt-Ferguson digunakan rumus sebagai berikut.
Q = (Md/Mw) x 100%
Q
= perbandingan bulan kering dan
bulan basah (%)
Md
= mean (rata-rata) bulan
kering, yaitu perbandingan antara jumlah
bulan kering
dibagi dengan jumlah tahun pengamatan
Mw
= mean (rata-rata) bulan
basah, yaitu perbandingan antara jumlah
bulan basah dibagi dengan jumlah tahun pengamatan
Ketentuan dari sistem klasifikasi iklim Schmidt-Ferguson adalah sebagai
berikut.
No
|
Tipe
|
Skala
|
1
|
Iklim A (sangat basah)
|
Q antara
0%–14,33%.
|
2
|
Iklim B (basah)
|
Q antara
14,33%–33,3%.
|
3
|
Iklim C (agak basah)
|
Q antara
33,3%–60%.
|
4
|
Iklim D (sedang)
|
Q antara
60%–100%.
|
5
|
Iklim E (agak kering
|
Q antara
100%–167%.
|
6
|
Iklim F (kering)
|
Q antara
167%–300%.
|
7
|
Iklim G (sangat kering)
|
Q antara
300%–700%.
|
8
|
Iklim H (kering sangat ekstrim)
|
Q lebih
dari 700%.
|
D. Klasifikasi
Iklim Junghuhn
Junghuhn
merupakan seorang ahli
Botani dari Belanda, yang membuat penggolongan iklim khususnya di negara
Indonesia terutama di Pulau Jawa berdasarkan pada garis ketinggian untuk
keperluan pola pembudidayaan tanaman perkebunan, seperti tanaman teh, kopi, dan
kina. Indikasi tipe iklim adalah jenis tumbuhan yang cocok hidup pada suatu
kawasan. Junghuhn membagi lima wilayah iklim berdasarkan ketinggian tempat di
atas permukaan laut sebagai berikut ini.
A. Zone Iklim Panas, antara ketinggian 0–700
meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan di atas 22°C.
Daerah ini sangat cocok untuk ditanami padi, jagung, tebu, dan kelapa.
B. Zone Iklim Sedang, antara ketinggian 700–1.500 meter di atas
permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara 15°C–22°C. Daerah ini
sangat cocok untuk ditanami komoditas perkebunan teh, karet, kopi, dan kina.
C. Zone Iklim Sejuk, antara ketinggian
1.500–2.500 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan antara
11°C–15°C. Daerah ini sangat cocok untuk ditanami komoditas hortikultur seperti
sayuran, bunga-bungaan, dan beberapa jenis buah-buahan.
D. Zone Iklim Dingin, antara ketinggian
2.500–4.000 meter di atas permukaan laut, dengan suhu rata-rata tahunan kurang
dari 11°C. Tumbuhan yang masih mampu bertahan adalah lumut dan beberapa jenis
rumput.
E. Zone Iklim Salju Tropis, pada ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas
permukaan laut.